Cukup AHY yang di hantui Polarisasi, Indonesia Jangan!

0

Pesta demokrasi Indonesia telah selesai dilaksanakan. Alih-alih turut merayakan, masyarakat justru dibuat gerah dengan suhu politik yang terus memanas hingga detik ini. Para pendukung calon presiden saling serang dan saling menuduh hingga mengubur harapan adanya pemilu damai dan aman. Berbicara mengenai polarisasi politik, salah satu politisi yang akrab dengan isu ini adalah Agus Yudhoyono (AHY). Kiprahnya dalam dunia politik dapat dikatakan masih seumur jagung, namun perjalanan yang dilaluinya selalu disertakan rintangan besar.

Masih hangat dalam ingatan saat AHY memutuskan untuk maju menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun 2016 silam. Gagasan-gagasan AHY membangun DKI Jakarta, tenggelam oleh perdebatan soal agama yang terus diangkat oleh beberapa kelompok. Keputusan AHY untuk tetap berada pada koridor nasionalis-religius, menjadikan dirinya kurang “seksi” di mata warga DKI Jakarta yang sudah terkotak-kotakkan. Alhasil, AHY kalah telak di putaran pertama karena memilih jalur idealis dan membebaskan pendukungnya memilih dengan hati nurani untuk putaran kedua.

Masa lalu pahit ini kemudian dijadikan pelajaran berharga bagi AHY bahwa betapa membahayakannya melibatkan isu agama kedalam kontestasi pemilu. Kesadaran bahwa dirinya merupakan korban polarisasi, tidak lantas menjadikan AHY berkoar di media untuk meminta keadilan. Sikap yang ditunjukkan AHY justru sangat dewasa yakni megakui kekalahan dan mendoakan keberlangsungan pelaksanaan Pilkada DKI putaran kedua.

Isu polarisasi yang menjadi mimpi buruk AHY, kemudian mendorongnya untuk menyampaikan pidato bertema “Indonesia Untuk Semua” di Surabaya. Ia mengingatkan para kontestan untuk tidak membenturkan Pancasila dan agama karena menurutnya, hal tersebut tidak akan menjadi kebaikan untuk Indonesia di masa mendatang. Untuk masyarakat Indonesia, ia pun berpesan jangan mudah tersulut dengan isu-isu SARA hingga melukai tali persaudaraan.

AHY hari ini bukanlah apa-apa, ia tidak terlibat secara langsung dalam kontenstasi pemilu 2019, namun semangatnya untuk memperjuangkan kewarasan dalam berdemokrasi sangat membara. Ia tidak ingin isu SARA kembali menjadi andalan para kontenstan pemilu untuk meraih kekuasaan, ia tidak ingin polarisasi terus membelah bangsa Indonesia. Tidak sebanding apabila menukar persatuan Indonesia hanya demi kekuasaan, dan langkah AHY untuk memerangi polarisasi demi mempertahankan NKRI merupakan gebrakan besar dari politisi yang kerap dianggap terlalu muda dan tanpa pengalaman.

Sebagai generasi yang sedang berupaya membangun bangsa Indonesia, memiliki AHY didalamnya adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Meskipun dianggap belum berpengalaman dalam politik, namun ia berani hadir sebagai penengah untuk para tokoh politik senior dan mencoba merangkul masyarakat Indonesia untuk tetap kondusif tanpa konflik pasca pemilu serentak 2019 lalu. Dengan kepeduliannya terhadap Indonesia di masa mendatang, tidak salah jika AHY, yang disebut bukan siapa-siapa, diundang secara langsung oleh Presiden Joko Widodo untuk berdiskusi tentang kondisi pasca pemilu secara langsung di Istana Negara pada 3 Mei 2019 lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here