Jika Turki invasi Suriah utara, apakah ISIS akan bangkit?

0


Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Kamp Al-Hol menampung lebih dari 70.000 tahanan ISIS, sebagian besar di antara mereka adalah perempuan dan anak-anak.

Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menarik mundur pasukan AS dari Suriah utara menimbulkan pertanyaan mengenai nasib komunitas Kurdi di Suriah. Komunitas tersebut kini mengendalikan kawasan perbatasan Suriah-Turki dan ribuan tahanan ISIS beserta keluarga mereka yang ditahan di sejumlah penjara dan kamp Kurdi.

Langkah penarikan mundur AS membuka jalan bagi Turki untuk melancarkan operasi militer lintas perbatasan, sesuatu yang ingin dilakukan Ankara sejak lama.

Serangan Turki akan bertujuan mengakhiri kendali komunitas Kurdi terhadap Suriah bagian utara.

Yang belum jelas sepenuhnya adalah apa yang akan terjadi terhadap para tahanan ISIS.

Trump berkata bahwa jika tentara Turki bergerak ke Suriah, maka Ankara harus bertanggung jawab atas nasib mereka.

‘Ditikam dari belakang’

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) berperan penting dalam mengalahkan kelompok milisi ISIS. SDF sendiri sejatinya adalah koalisi militer yang sebagian besar di antaranya merupakan suku Kurdi di Suriah.

AS, kala itu, memperlakukan pasukan Kurdi sebagai sekutu utamanya di Suriah. AS memasok senjata kepada mereka, memberi pelatihan, hingga sokongan pesawat tempur untuk membantu pasukan Kurdi melawan ISIS.

Namun, suku Kurdi di Suriah, yang berharap mendapat otonomi di Suriah sebagai imbalan atas peran mereka memberangus ISIS, kini menghadapi ancaman invasi Turki yang justru mendapat restu Trump.

Mereka menggambarkan langkah Trump dalam menarik mundur pasukan AS seperti ‘sedang ditikam dari belakang’.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Presiden Erdogan menunjukkan peta “zona aman” yang hendak dibuatnya di Suriah saat berpidato di hadapan Majelis Umum PBB, bulan lalu.

Turki menganggap pasukan Kurdi di Suriah sebagai ancaman terhadap keamanannya. Bahkan, Turki menyebut mereka sebagai ‘petempur teroris’ yang dikaitkan dengan kelompok pemberontak Kurdi PKK yang telah bertempur di Turki selama berpuluh tahun.

“Tanggung jawab” Turki

Akan tetapi hanya sedikit yang diketahui mengenai sikap pejabat Turki terhadap cuitan Presiden Trump bahwa tahanan ISIS kini menjadi tanggung jawab Turki. Dan, jika memang demikian, apa yang akan diperbuat Turki terhadap mereka.

Presiden Trump mengatakan AS sudah melakukan bagiannya dengan memberikan dana dan sokongan militer kepada suku Kurdi di Suriah untuk berperang dan menahan petempur ISIS.

Trump justru menudung negara-negara Eropa tidak berbuat cukup banyak dalam menangani para tahanan ISIS, yang sebagian besar berasal dari Eropa.

Petinggi Kurdi sudah meminta negara-negara Eropa mengambil kembali warga mereka, namun seruan itu tidak didengarkan.

Fehim Tastekin, seorang analis Turki, mengutarakan “tatkala negara-negara seperti Rusia, Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Kosovo mengambil kembali warga mereka, kebijakan dominan di antara negara-negara Eropa adalah mempertahankan warga mereka di penjara-penjara dan kamp-kamp Suriah.”

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang sebagian besar merupakan petempur Kurdi, memainkan peranan penting dalam memberangus ISIS.

Selain negara-negara yang disebut tadi, masih ada tahanan lain dari berbagai negara mayoritas Muslim, seperti Mesir, Tunisia, Yaman, Suriah, dan Irak yang jumlahnya ribuan orang.

Pasukan Kurdi sejauh ini berkata akan tetap menahan para petempur eks-ISIS, namun langkah itu sangat tergantung dari seberapa dalam dan luas serangan Turki ke wilayah Suriah.

Kamp-kamp dan penjara-penjara

Turki menegaskan keinginannya untuk membentuk “zona aman” sejauh 32 kilometer ke dalam wilayah Suriah yang bebas dari suku Kurdi.

Dengan demikian, akan ada dua kamp yang tercakup di zona tersebut. Keduanya sudah dibangun untuk menahan keluarga para petempur ISIS. Yang pertama adalah kamp Roj yang menampung 1.700 perempuan dan anak-anak, yang kedua adalah Ain Issa yang menampung 1.500 orang.

Namun, ukuran kedua kamp itu bukan tandingan kamp Al Hol, yang berada dekat perbatasan Irak dan berjarak 60 kilometer sebelah selatan Turki.

Kamp Al Hol menampung lebih dari 70.000 jiwa, yang 90%-nya perempuan dan anak-anak. Dari jumlah itu, 11.000 di antara mereka merupakan warga negara asing.

Selain Al Hol, ada tujuh penjara dekat Kota Raqqa yang memuat 12.000 tersangka petempur ISIS, sepertiga dari mereka adalah warga negara asing.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Negara-negara Eropa umumnya tidak bersedia menampung kembali warga mereka yang bergabung dengan ISIS.

Kalaupun serangan Turki tidak terlalu jauh masuk ke dalam wilayah Suriah, aksi itu diperkirakan bakal melemahkan penjagaan kamp-kamp dan penjara-penjara.

Juru bicara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mengatakan kepada BBC bahwa jika serangan Turki berlangsung, mereka harus fokus mempertahankan diri. Imbasnya, pasukan penjaga penjara dan yang ditempatkan di area-area eks-ISIS harus ditarik ke medan pertempuran.

Hal ini menimbulkan kerisauan, terutama dari negara-negara di Eropa, bahwa petempur ISIS dan keluarga mereka bisa kabur dari penjara dan kembali ke Eropa.

Kekhawatiran soal kebangkitan ISIS

Ada pula kekhawatiran mengenai kemampuan atau bahkan kesediaan Turki menangani para tahanan tersangka ISIS.

Jika pasukan Kurdi di Suriah tidak lagi bisa menyediakan keamanan di kamp-kamp dan penjara-penjara, apakah Turki bisa mengisi kekosongan itu?

Brett McGurk, mantan utusan presiden US di bidang perlawanan ISIS di Irak dan Suriah, tidak berpikir demikian.

Dia mencuit bahwa Turki “tidak punya niat, hasrat, ataupun kapasitas” untuk mengelola puluhan ribu tahanan di kamp Al-Hol, tempat yang dia sebut dipandang sebagai “bagian utama kebangkitan ISIS”.

Lepas dari ancaman keamanan, terdapat kerisauan soal kemanusiaan.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Ribuan anak-anak hidup di kamp-kamp Suriah.

Lembaga Save the Children mengatakan ada ribuan anak dari lebih 40 negara yang ditampung di kamp-kamp, yang hanya bergantung pada bantuan kemanusiaan.

“Setiap gangguan pada layanan kamp, yang sekarang saja sudah sulit, akan membuat nyawa mereka terkena risiko,” sebut lembaga itu.



Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here